Posted by: ninayuliana | June 15, 2009

yang terlupa

dan karung kemarahan ini
kami sampirkan di pundak
di dalamnya sebongkah matahari
yang kami curi semalam
dari sebuah istana di negeri sana

mereka tak pernah tahu
sebongkah matahari yang hilang
karena mereka punya seribu

kami pinjam sebongkah itu
biar terang dada kami
menyusuri becek jalan hitam ini

suatu hari, tentu kami kembali
mengantar sebongkah itu
: pada ujung nafas kami

(terinspirasi dari puisi Teddy Delano: http://www.facebook.com/note.php?note_id=104933778614&ref=nf)

Advertisements

Responses

  1. asyik.. mengalir pelan.
    selincah ketukan drum pada slow rock..
    namun berat dan hunjam..

    ah, jadi makin rindu dg puisi2mu..

  2. Tertawaku…menangisku…terbujurku…menatapmu…indah kulihat dari sudut pandangku. Terlilit oleh asa yang tak nyata, namun relungnya berkata dengan seksama. Akh…kukira tak ada lagi rasa, ternyata dalamnya hati terlampir sejuta makna. Entah cinta atau iba, entah suka atau tidak, entah mengalir atau terkilir…semuanya sama-sama kosong. Tiap balutan kata-katanya menghujam tepat di tengah porak porandanya moral dan estetika. Mau di bawa kemana jiwa-jiwa yang merindu ? Akankah matahari esok tersenyum padaku ? Sehingga aku dapat melampiaskan setitik nila di atas lembaran-lembaranmu. Semoga………tak lagi kosong…plong…plong…plong…:)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: