bulat bulan menunjuk tujuh
sepi menjalar di kokoh gedung kantor itu
bergegas kemasi kertas di meja
tak lupa kau matikan monitor yang tadi menyala
istrimu membuka lemari pendingin
yang kau beli beberapa tahun lalu
sayur-sayuran, potongan daging, sejumlah bumbu
cukup untuk membuat sop kesukaanmu
laju motor kau pacu bagai orang dikejar hantu
tak ingin telat tiba di tempat
itu pikiranmu
di dapur dua kali tiga meter
istrimu bernyanyi kecil
diantara kepulan asap
wangi sop yang mendidih
segera motor kau sandarkan
senyum lebar terurai di wajah itu
saat sosokmu tertangkap olehnya
yang menanti sejak satu jam yang lalu
bulat bulan mengitar sepuluh
getar telepon genggam di sakumu
‘ayah di mana? sopnya sudah dingin, mau dihangatkan?’
pesan pendek kau baca tergesa
lincah jemari kananmu menekan huruf-huruf
‘aku masih di kantor, banyak pekerjaan, tak usah kau tunggu.’
di lengan kirimu, menggelayut manja perempuan manis itu
di tangannya, sebuah tas belanja
sepotong gaun merah menyala
dan kalung berwarna senada
“terima kasih, kau tahu saja
apa yang kusuka”, ucapnya
sambil mengecupmu
di depan pagar rumahnya
di atas dipan tua, di ruang tamu
istrimu terlelap
lelah menantimu